Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Ekonomi

Di Tengah Konflik Timur Tengah, Selat Hormuz atau Malaka yang Lebih Strategis bagi Dunia?

Penulis : Mutmainah J - Editor : A Yahya

09 - Apr - 2026, 17:15

Placeholder
Ilustrasi Selat Hormuz dan Selat Malaka. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Di tengah meningkatnya tensi konflik di kawasan Timur Tengah, perhatian dunia tak hanya tertuju pada dinamika politik dan militer, tetapi juga pada dua jalur laut strategis yang menjadi penopang utama ekonomi global. Keduanya adalah Selat Hormuz dan Selat Malaka dua “titik sempit” di peta dunia yang memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas energi dan perdagangan internasional.

Meski sama-sama krusial, peran kedua selat ini sangat berbeda. Selat Hormuz lebih dikenal sebagai jalur utama distribusi energi dunia, sementara Selat Malaka menjadi nadi utama perdagangan dan rantai pasok manufaktur global.

Baca Juga : China Tutup Ruang Udara Selama 40 Hari, Ada Apa?

Selat Hormuz: Gerbang Energi Global

Selat Hormuz kerap disebut sebagai jalur energi paling vital di dunia. Letaknya yang strategis di antara Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab menjadikannya pintu keluar utama bagi minyak dan gas dari kawasan Teluk Persia menuju pasar internasional.

Berdasarkan data dari Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) yang dikutip oleh Firstpost pada Kamis (9/4/2026), sekitar 20 juta barel minyak melintasi selat ini setiap hari sepanjang 2025. Jumlah tersebut setara dengan hampir 20 persen dari total konsumsi minyak global, dengan nilai perdagangan mencapai sekitar 600 miliar dolar AS per tahun.

Negara-negara besar di Asia seperti China, India, dan Jepang menjadi pelanggan utama minyak dari jalur ini, dengan sekitar 82 persen ekspor energi mengarah ke kawasan Asia.

Namun, ketergantungan ini juga menyimpan risiko besar. Ketika Iran menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tekanan geopolitik, potensi gangguan pasokan energi global pun meningkat. Menariknya, situasi ini juga menjadi dilema bagi negara produsen di Teluk, termasuk Iran sendiri yang mengekspor sekitar 1,7 juta barel per hari melalui jalur yang sama.

Meski Arab Saudi dan Uni Emirat Arab telah mengembangkan jalur pipa alternatif, kapasitasnya masih belum mampu menyaingi volume distribusi melalui Selat Hormuz. Jika terjadi penutupan, para analis memperkirakan pasar global bisa kehilangan hingga 8–10 juta barel minyak per hari.

Selat Malaka: Jalur Super Sibuk Perdagangan Dunia

Berbeda dengan Hormuz, Selat Malaka memiliki peran yang jauh lebih luas dalam perdagangan global. Selat ini menjadi penghubung tercepat antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, menjadikannya jalur favorit bagi kapal-kapal niaga dari seluruh dunia.

Sekitar seperempat perdagangan barang global melintasi selat ini, termasuk hampir 25 persen pengangkutan minyak dunia melalui jalur laut. Bahkan, dengan volume sekitar 23 juta barel minyak per hari, Selat Malaka menjadi jalur transit minyak tersibuk di dunia melampaui Selat Hormuz.

Tidak seperti Hormuz yang didominasi arus ekspor satu arah, lalu lintas di Selat Malaka berlangsung dua arah. Minyak dan bahan mentah dari Timur Tengah serta Afrika dikirim ke Asia Timur, sementara produk manufaktur dari negara-negara seperti China, Jepang, dan Korea Selatan didistribusikan ke pasar global.

Baca Juga : WFH Berbasis Smart City, Pemkot Blitar Pastikan Layanan Tetap Optimal dan Respons Cepat

Kepadatan lalu lintas ini menjadikan Selat Malaka sangat rentan terhadap berbagai risiko, mulai dari kemacetan kapal, kecelakaan laut, hingga ancaman keamanan seperti pembajakan.

Lebih dari itu, selat ini juga menjadi bagian penting dalam strategi geopolitik global. Istilah “Dilema Malaka” yang diperkenalkan oleh Hu Jintao menggambarkan kekhawatiran China terhadap kemungkinan blokade di jalur ini. Mengingat sebagian besar impor energinya bergantung pada Selat Malaka, gangguan kecil saja bisa berdampak besar pada perekonomian negara tersebut.

Meski tersedia jalur alternatif seperti Selat Lombok dan Selat Sunda di Indonesia, keduanya memerlukan waktu tempuh lebih lama dan biaya operasional yang lebih tinggi, sehingga belum menjadi pilihan utama.

Dari penjelasan diatas diketahui bawa Selat Hormuz dan Selat Malaka sama-sama menjadi tulang punggung sistem ekonomi global, namun dengan fungsi yang berbeda. Hormuz mengendalikan aliran energi dunia, sementara Malaka menggerakkan roda perdagangan internasional.

Di tengah ketidakpastian geopolitik, stabilitas kedua jalur ini menjadi sangat penting. Gangguan di salah satu saja dapat memicu efek domino yang berdampak luas, mulai dari lonjakan harga energi hingga terganggunya distribusi barang di seluruh dunia.


Topik

Ekonomi selat hormuz selat malakan perdagangan global



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Magetan Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

A Yahya