JATIMTIMES - Polemik di Perumahan Griyashanta, Kelurahan Mojolangu, terus berlanjut. Ketegangan warga belum mereda hingga awal April 2026.
Terbaru, sebuah banner ajakan diskusi warga tiba-tiba hilang. Warga sebelumnya memasang banner itu sebagai ruang membuka dialog.
Baca Juga : Saat Gejala Tak Terlihat, Peneliti Kembangkan Cara Baru Deteksi Hipotiroid pada Bayi
Banner tersebut mengajak warga berdialog terbuka. Tujuannya mencari solusi atas konflik yang belum menemukan titik temu.
Warga memasang banner pada Senin malam, 6 April 2026. Namun, pihak tak dikenal mencopotnya pada Rabu pagi, 8 April 2026.
Sejumlah warga menilai pencopotan itu mencederai semangat demokrasi. Mereka menilai tindakan tersebut menghambat ruang komunikasi terbuka.
“Melalui banner itu kami mengajak warga berdialog dan terbuka. Tiba-tiba dicopot, ini menghalangi demokrasi,” ujar M. Nasrul Hamzah.
Hamzah merupakan anggota Forum Komunikasi dan Diskusi Warga RW 12. Ia menyayangkan hilangnya media ajakan tersebut.
Polemik ini bermula dari penolakan sebagian warga terhadap rencana jalan tembus. Pemerintah Kota Malang menggagas pembangunan itu.
Lahan yang direncanakan menjadi jalan berstatus PSU yang berada pada kewenangan Pemerintah Kota Malang.
Baca Juga : Israel Dukung Gencatan Senjata AS-Iran, Tegaskan Lebanon Tidak Termasuk Kesepakatan
Fakta terbaru menunjukkan tidak semua warga RW 12 menolak rencana itu. Perbedaan sikap memicu dinamika di lingkungan setempat.
Melalui banner, sebagian warga juga menyampaikan kelelahan. Mereka terbebani donasi yang terus dihimpun selama konflik berlangsung.
Hamzah berharap semua pihak membuka ruang dialog. Ia ingin warga menerima informasi utuh dan tidak simpang siur.
"Kami kan hanya ingin ada dialog terbuka dengan semua pihak yang berkepentingan. Jadi terutama agar warga ini tidak menerima informasi yang simpang siur," pungkas Hamzah.
