JATIMTIMES - Profil Gus Iqdam belakangan ini tengah menjadi pencarian banyak orang. Sosoknya yang masih muda dan pembawaannya yang ceria membuat dia digandrungi oleh banyak orang.
Banyak potongan ceramahnya yang ringan berbalut dengan kata-kata khas berbahasa Jawa sering berseliweran di FYP TikTok maupun Instagram. Beberapa istilah yang dilontarkannya juga viral. Misalnya; dekengane pusat, ST nyell, garangan, dan wonge teko.
Mengutip laman p2k.stekom.ac.id. pada Minggu, (13/8/2023), berikut profil Gus Iqdam.
Profil
Agus Muhammad Iqdam Kholid atau dikenal Gus Iqdam lahir di Blitar pada 27 September 1993. Dia adalah pendakwah muda Nahdlatul Ulama, pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Hikam II di Desa Karanggayam, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, dan pendiri Majelis Ta’lim Sabilu Taubah.
Namanya dikenal karena ceramahnya yang milenial, lucu, kocak, dan mendapuk semua kalangan, termasuk anak-anak punk.
Baca Juga : Membuka Peluang Milenial Merdeka Finansial, MMI Gelar Inkubator Industri Kreatif
Gus Iqdam merupakan pendiri Majelis Ta’lim Sabilu Taubah pada 2018 yang awalnya hanya memiliki 7 jamaah dan kini memiliki 66.000 jamaah dari pelosok Nusantara.
Sebagai seorang mubalig muda yang berasal dari Blitar, Gus Iqdam memiliki keunikan dalam berdakwah. Video-video ceramahnya telah menyebar luas di berbagai platform seperti Tiktok dan Youtube Shorts, sehingga masyarakat dari berbagai lapisan mudah mengenali dan mencintainya.
Latar Belakang
Gus Iqdam merupakan anak terakhir dari empat bersaudara pasangan KH Kholid dan Hj Ny Lanratul Farida. Awalnya, Gus Iqdam belajar mengaji di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, di bawah asuhan Muhammad Abdurrahman Kautsar atauGus Kautsar.
Gaya Dakwah
Baca Juga : Pemkab Sidoarjo Serahkan Hibah 22 Unit Mobil Dinas untuk TNI AL
Gus Iqdam, setelah mendirikan Majelis Ta’lim Sabilu Taubah pada Desember 2018, memulai rutinitas dakwahnya dengan jamaah kisaran 7 orang. Namun, selang berapa tahun, majelis ta’lim tersebut sudah banyak dikenal dan viral di kalangan milenial hingga sampai mencapai ribuan jamaah.
Gus Iqdam sengaja memberikan nama majelis ta’lim tersebut dengan nama Sabilu Taubah yang artinya jalan taubat. Sebab, jAmaah di dalamnya tidak hanya berfokus pada santri, orang berpengetahuan atau bahkan orang sudah tidak asing terhadap ilmu agama. Di antara jamaahnya, banyak yang sama sekali tidak paham ilmu agama.
Gus Iqdam menghadirkan majelisnya sebagai tempat mengaji bagi orang-orang yang berideologi jalanan, marginal, dan kerap berurusan dengan dunia kriminal. Dengan ciri khas dakwahnya yang lemah lembut, sopan dan lucu, Gus Iqdam mencoba untuk mengajak mereka agar mau mengaji bersama-sama.
Ia mengibaratkan ngaji sebagai bensin yang sangat dibutuhkan mobil atau motor untuk menggerakkannya. Sebab, bagaimana mobil bisa bergerak jika tidak ada bensin, sebagaimana raga apakah bisa bergerak menjadi baik jika tidak mengaji. Ia menjelaskan bahwa ngaji menjadi salah satu cara untuk mengatur jiwa, mengolah pikiran dan ruhani.
